Selasa, 07 Oktober 2014

Sekilas Mengenai Access Grid dan SETI@Home


1. Access Grid (accessgrid.org)
Access Grid adalah kumpulan sumber daya dan teknologi yang memungkinkan video berkecepatan tinggi dan jaringan audio, individu dapat berkolaborasi dari berbagai lokasi dalam lingkungan virtual umum. Access Grid adalah sebuah ensemble sumber daya, termasuk multimedia menampilkan format besar, presentasi dan lingkungan interaktif, dan interface dengan middleware komputasi grid dan lingkungan visualisasi. Dalam istilah sederhana, adalah video conference maju menggunakan display besar dan dengan beberapa kamera simultan feed di setiap node (situs). Teknologi ini diciptakan di Argonne National Laboratory, Chicago.  "Aliansi Chautauqua 99", serangkaian konferensi dua-hari pada ilmu komputer yang diselenggarakan oleh NCSA, adalah peristiwa Access Grid berskala besar pertama. Access Grid kemudian didemonstrasikan di Supercomputing'99 di Portland kepada audiens internasional.

      The Access Grid menyediakan ruang yang dirancang yang mendukung audio / video teknologi high yang diperlukan untuk memberikan pengalaman kolaborasi menarik virtual yang dapat digunakan untuk pertemuan skala besar terdistribusi, seminar, kuliah, tutorial, dan pelatihan. Sebuah teknologi serupa, yang disebut telecubicle tersebut, menggunakan dua panel dinding ruangan kantor sebagai tampilan layar untuk menghasilkan efek peserta duduk mengelilingi meja, meskipun mereka mungkin benua terpisah. Dengan Internet, kolaborasi interaktif adalah hal terbaik berikutnya untuk berada di sana. Internet dan kolaborasi interaktif adalah menemukan rumah dalam seni juga.
Pada tahun 2005, ada lebih dari 500 node di seluruh dunia yang memungkinkan untuk berbagai bentuk kolaborasi kreatif dan akademik. Pengguna akses Grid cenderung menggunakan XMPP sebagai back-end berbasis teks mereka. Memang, versi baru dari Access Grid Toolkit mengintegrasikan klien XMPP dengan software Access Grid. Versi stabil terbaru dari software ini rilis 3.2. Ada juga bundel diinstal dengan beberapa codec tambahan video (seperti HD) dan alat tambahan.
Dalam proyek ini tidak hanya kemampuan komputasi saja, melainkan juga potensi media penyimpanan yang besar menjadi tujuan utamanya. Dengan sistem ini dimungkinkan analisa data eksperimen secara real-time, sehingga bisa dilakukan penghematan kapasitas penyimpanan karena hanya data yang relevan saja yang disimpan secara permanen. Berbeda dengan sebelumnya, dimana data eksperimen dianalisa secara off-line, sehingga diperlukan kapasitas penyimpanan yang sangat besar. Sistem ini akan dipakai pertama-kalinya untuk eksperimen di LHC (Large Hadron Collider) di CERN yang akan mulai berjalan pada tahun 2007.


2.  SETI @ home (setiathome.berkeley.edu)


SETI adalah singkatan dari the Search for Extra Terrestrial Intelligence, merupakan proyek pencarian spesies cerdas di angkasa luar yang didirikan 1984 sebagai sebuah lembaga privat non-profit pengkajian dunia bintang-bintang dalam galaksi Bima Sakti yang kini dipimpin oleh Jill Tarter. Anda dapat berpartisipasi dengan menjalankan sebuah program bebas download dan menganalisis data teleskop radio untuk melihat sinyal intelektual terestrial (sinyal dari mahkluk angkasa bila ada).

Berkeley Open Infrastructure for Network Computing disingkat BOINC adalah sebuah infrastruktur komputasi terdistribusi yang awalnya dikembangkan untuk mendukung proyek SETI@home. BOINC dikembangkan oleh sebuah tim Universitas California, Berkeley yang dipimpin oleh David P. Anderson, yang sekaligus direktur proyek SETI@home.
SETI@home merupakan proyek yang paling dikenal secara luas yang menggunakan platform BOINC. Per Agustus 2010, dari keseluruhan total kredit BOINC, sebanyak 28,11% pengguna BOINC di seluruh dunia menjalankan kalkulasi proyek SETI@home, diikuti oleh 15,49% menjalankan MilkyWay@home, 10,17% menjalankan World Community Grid. Kesuksesan SETI@home yang diluncurkan pada tahun 1999 menjadi salah satu jaringan komputasi terbesar yang pernah dibangun, makin memperjelas bahwa teknologi komputasi terdistribusi dapat digunakan di banyak proyek-proyek sains yang sangat tergantung pada perhitungan-perhitungan. Selain memakai CPU komputer, beberapa proyek BOINC juga dapat memanfaatkan GPU dari kartu grafis untuk melakukan perhitungan. Untuk perhitungan tertentu, GPU dapat memproses perhitungan jauh lebih cepat dari CPU.

Komunitas di SETI@home (http://setiathome.ssl.berkeley.edu) ini telah menghubungkan satu juta-an PC pribadi di seluruh dunia dan memiliki komunitas yang luar biasa di banyak negara. Satu juta PC yang terkoneksi di SETI@home ini memiliki kemampuan setara 60 TFlops. Untuk komunitas fisika energi tinggi, khususnya eksperimen, bahkan telah mengembangkan gabungan kedua system, yaitu menghubungkan komputer paralel di pusat-pusat penelitian dengan koneksi internet berpita lebar.

Argumen SETI : jika di angkasa luar ada peradaban cerdas, peradaban ini akan memancarkan gelombang radio dan sinyal elektronik lain ke luar angkasa, yang bisa kita tangkap di Bumi lewat teleskop radio. Situasinya sama dengan peradaban kita di Bumi: semua sinyal radio, TV dan peralatan elektronik lain yang kita pakai, memancar masuk ke angkasa luar tanpa batas. Jika ada peradaban cerdas lain dalam Bima Sakti, mereka bisa tahu bahwa kita ada dari sinyal-sinyal radio dan elektronik kita yang terpancar ke antariksa.

Sarana yang dipakai proyek SETI untuk memindai sinyal-sinyal radio dari angkasa luar adalah deretan 42 antena piring parabola Universitas California yang dipasang di California Utara, yang bekerja sebagai teleskop radio. Deretan antena parabola ini dinamakan Allen Telescope Array, karena didanai privat oleh Paul Allen, milyarder co-founder Microsoft.

Selain itu, aliens cerdas di angkasa luar juga akan bisa tahu peringkat peradaban kita, apakah peradaban yang masih primitif ataukah peradaban yang sudah sangat advanced, berdasarkan berapa besar tingkat konsumsi energi kita yang dapat dihitung dari cahaya yang terpancar dari Bumi ke angkasa luar, yang mereka dapat tangkap. Demikian juga sebaliknya. Kosmolog Michio Kaku pernah menulis tentang bagaimana mengukur tingkat suatu peradaban cerdas di antariksa berdasarkan pancaran cahaya dari planetnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar